Home / novel
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Rabu, 27 November 2019
Jumat, 07 Oktober 2016
Kamis, 29 September 2016
novel energi psikis bab 3 - reaksi
novel
Halaman 12
Iya bu anna ada
yang bisa saya bantu? darda bukan
seorang yang pemalu dengan wajah bekunya dia pun menjawab, selain petugas
penjaga keamanan yang datang lebih awal, anna pun sering terlihat siap siaga
sebelum darda beraktivitas walaupun sama sekali belum pernah ada orang di
hadapannya selain darda sendiri, anna hanya duduk dan berdiam diri dan sesekali
dia memainkan ponsel pintarnya.
“iya nih darda
tolong bersihin meja anna, kotor tadi habis minum kopi” seru anna kepada
darda, iya bu darda kesana jawab
darda mengiyakan,
“gak usah panggil ibu kali, darda” sembari tersenyum kesal anna
protes,
Tak ada jawaban dari mulut
dingin darda dia hanya tersenyum kecil.
Darda pun mengambil handuk di lehernya dan mulai
menggosokannya ke noda kopi di meja sang resepsionis, ke atas dan bawah gerakan
teratur yang dilakukan darda membuat meja yang kusam itu kini mulai cerah dan mengkilat,
Selang di akhir tugasnya di
tengah meja, darda mendapati sebuah catatan pena berwarna hitam di meja anna yang
bertuliskan angka 3053x “tidak, itu bukan apa-apa!!” seru ana dengan
raut wajah yang agak memaksakan tersenyum sembari menatap darda, tak lama anna
pun mengambil gunting kukunya dan mengeluarkan pisau kecil yang berada
ditengahnya.
“grkgrkgrk” suara gesekan pisau menghancurkan lapisan cat
di meja anna, dengan tangan kanan dia melakukannya berulang-ulang ke arah kiri,
“awwww!” suara anna yang kesakitan karena dia terlalu
kencang menggesekan pisau ke mejanya, hingga pisau kecil itu mengenai jempol di
tangan kiri anna, dan darah pun mengalir pelan di sela-sela kulit anna yang
robek.
Secara reflek darda pun mengambil beberapa helai tissue
dan memegang tangan anna, tetapi tak ada kata-kata kekhawatiran yang darda
ungkapkan dia hanya coba menutup dan membersihkan darah yang mengalir di jemari
anna.
Rahang yang bergetar dan mata
yang bergoyang perlahan terlihat jelas oleh anna,
“darda kamu kenapa?” Tanya anna
melihat kejanggalan di raut wajah darda,
Gak apa-apa bu, tunggu sebentar darda mau ngambil obat merah dan plester,
“ya” jawab anna, sembari menunggu
darda kembali anna pun membalut tangan nya dengan tissue dan melanjutkan untuk
menghapus catatannya.
Tak beberapa lama darda pun
datang dan mendekati anna, lalu memegang tangannya, maaf bu saya pegang tangannya sahut darda sembari mengoleskan obat
merah ke jemari anna.
Tetapi tak ada jawaban yang diberikan anna, hanya mata yang berbinar dan
bibir yang terjepit kedalam mulut, membuat lekukan di pipi anna terlihat begitu
tak biasa untuk diperhatikan orang-orang ataupu lelaki dihadapannya itu,
tetapi tukar tatapan mata itu
tak pernah terjadi dihadapan anna, hanya hawa dingin yang dirasakannya saat darda
sedang memplester jarinya.
Darda pun selesai memplester
jari anna yang tertusuk pisau kecil, sudah
bu
Sahut darda sambil menatap
dingin anna , “lain kali kalau mau pegang
tangan bilang dulu, baru saya jawab” seru
anna dengan tangan kanan yang memegang pinggang dan memasang muka marah yang
terpaksa, iya maaf bu jawab darda,
Anna pun membalas dengan
tawa kecilnya, “ yasudah beres beres lagi
sana”
novel energi psikis bab 3 - reaksi
novel
Bab 3 reaksi
Halaman 11
Tak ada langkah yang terburu-buru disetiap pijak kakinya,
darda pun tetap konstan dengan pergerakannya itu, di depan pelataran yang luas
nan hijau berdiri kokoh sebuah perusahaan besar yang menjadi tempat darda
mencari nafkah.
Dennis corp itulah nama
perusahaan besar itu, perusahaan yang tak banyak darda ketahui meskipun banyak
orag orang yang berada disana, tetap bibirnya yang beku enggan untuk sekedar
berbicang ataupun bertanya.
Darda hanya
mengetahui sedikit hal dari apa yang dia lihat, bahwa orang orang yang
berada disana begitu ramai dan sibuk dengan pekerjaannya masing masing.
Hujan masih saja turun dan Tak kunjug reda, tak ada sapa
ataupun salam yang dia dapatkan, tepat pukul setengah delapan darda pun mulai
mempersiapkan alat pekerjaannya, dia berjalan ke arah loker dan mengambil
handuk kecil di dalam tasnya dan di lingkarkannya tepat di lehernya sebab darda
tak ingin peluhnya membasahi lantai yang sudah dia bersihkan, dan tak lupa dia
membawa buku catatan dan pulpen guna mencatat ruangan mana saja yang telah dia
bersihkan, sambil membawa sapu, perjalanan
lamanya pun mulai di hadapi.
Begitu banyak ruangan yang berada di perusahaan ini, tercatat ada 324 ruangan dari
10 lantai yang tinggi menjulang di perusahaan ini, dan yang darda tahu bahwa
perusahaan ini bukanlah sebuah hotel atau sejenis tempat penginapan.
Dia hanya melihat orang
orang mengerjakan ribuan berkas yang tersusun rapih di setiap ruangannya.
Seperti biasanya darda mengawali tugas di area paling
bawah yaitu sebuah ruangan resepsionis, ruangan itu tak begitu ramai karena
karyawan maupun staff datang silih berganti tepat pukul 10 nanti, sudut demi
sudut darda bersihkan begitu teliti dan seksama, debu bercampur tanah yang di
tinggalkan jejak sepatu mereka di hari kemarin menjadi ladang pekerjaan untuk
darda.
Dingin dan beku lekat
merasuki kepalanya, tak ada sesuatu yang membuat dirinya tertarik dan sekedar
untuk melirik, darda hanya tertunduk dan fokus dengan pekerjaannya.
“hay, darda bisa
tolong sebentar kesini bantuin aku” teriak Anna seorang resepsionis
perempuan yang cantik berambut panjang seperti jalanan sutera yang halus
terurai warna pirang rambutnya membuat orang orang silau melihatnya, pun
bibirnya yang tipis berlipstik orange menghiasinya,kulit putihnya bak lautan
susu yang membuat semua orang ingin menyelaminya juga badannya yang dibungkus
pakaian formal berwarna hitam membuat anna begitu sempurna dan terlihat
menawan.
halaman 12Rabu, 28 September 2016
energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus
novel
Halaman 10
Bukan karena ramai ataupun karena ingin memasuki restoran itu melainkan
karena senyuman para waitress yang membuat
dirinya tenang walupun senyuman walaupun senyuman itu benar benar bukan untuk
dirinya.
Sepuluh langkah dikanan seberang restoran derra berdiri sebuah rumah
opera, sebuah tempat yang bernama glory opera house, darda tak banyak
tahu tentang tempat ini karena ia sama sekali tak mempunyai cukup waktu untuk
sekedar memasuki tempat tersebut dan darda tak pernah tahu jam ataupun kapan
opera house itu dibuka?,
“ayo cepat, cepat bawa
pasiennya ke dalam!!!” teriak beberapa pria yang berada di depan rumah
sakit eva, 20 meter di depan opera house berdiri sebuah rumah sakit
terkenal dan megah yang pernah darda lihat, hampir setiap hari dirinyamelihat
pasien yang dalam keadaan parah harus dirawat di rumah sakit itu, tempat inilah yang membuat darda diberi
peringatan oleh managernya karena di anggap bermain saat jam bekerja, sesuatu yang aneh mencoba menarik saya
kesana jawaban terakhir darda yang di ungkapkan ke managernya, “karena kamu pasien rumah sakit gila!!!
hahaha” seru sang manager tempo hari itu.
Di sepuluh menit terakhir dua tempat yang juga menarik
membuat mata dan hatinya sedikit terhibur, yaitu rocco tempat hewan
peliharaan dititipkan, dan bar blues sebuah bar yang tentunya
hanya bisa ia lihat saat darda pulang bekerja nanti malam.
Langkah demi langkah benar-benar darda resapi walaupun gerak
kakinya sungguh tak bisa ia atur, entah karena tuntutan pekerjaan atau karena
terbiasa.
Sampai di 5 menit terakhir
darda harus menunggu beberapa menit karena sebuah kereta besar nan panjang setia
melewati jalannya untuk bekerja dan langkah itupun berhenti seketika, walupun
sebagian orang menerobos masukuntuk menyeberang tetapi tidak untuk darda, “breeenggg
zgzgzgzezgz” kereta api yang melintas dihadapan darda, tanpa ekspresi dia
mengikuti pergerakan kereta api yang berjalan cepat.
Darda pun melangkah kembali, tak ada yang istimewa di
sisa perjalanan ke tempat bekerjanya hanya ada sebuah tempat pemakaman umum bernama tanah
wetan sebuah pemakaman yang cukup indah dan menarik,
Kalaupu aku mati disini, aku tak pernah mau di makamkan disini!!! Petikan darda saat pertama kali melihat tempat
pemakaman itu, tepat di ujung jalan sebuah
perusahaan besar bernama DENNIS CORP terlihat di jelas di
hadapannya tempat darda mencari nafkah.
Perjalanan panjang menuju tambang cahaya, tanpa disadari mengorbankan
banyak waktu dan
fikiran, menit-menit yang darda gunakan tidak pernah berputar melainkan
tegak lurus dihadapannya
halaman 11
halaman 11
energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus
novel
Halaman 9
Sebab cuaca di pagi hari ini tak seperti hari hari
biasanya, mereka pun berpamitan pada sang nenek “nek berangkat dulu ya assalamuallaikum” ujar darda dan yasinta, Waallaikumsallam jawab sang nenek, mereka
pun bergegas meninggalkan rumah dan mulai melangkahkan diri.
Jarak sekolah yasinta hanya sekitar 15 menit dari
rumahnya, adik darda yang sudah duduk di kelas 5 sd itu umurnya baru memasuki tahun
ke 8 karena menurut para guru dia benar benar terlampau pintar hingga para guru
memaksanya untuk langsung masuk ke kelas 5 sekolah dasar, walaupun yasinta baru
sekolah disana 2 minggu yang lalu sejak mereka pindah kerumah neneknya.
Hujan masih saja tetap setia membasahi disetiap sudut
jalan yang tak begitu ramai, tak banyak yang mereka perbincangan selama adik
dan kakak itu berjalan, hanya pertanyaan biasa yang sering dilontarkan yasinta
kepada kakaknya.
Gedung dan toko berjejer
berderetan rapihseolah menyambut kedatangan mereka, disepanjang jalan tak Nampak
hal spesial yang bisa mereka ingat ataupun perhatikan untuk sekedar membawanya pulang dan menjadi bahan perbincangan dirumah.
Hanya beberapa mobil dan motor yang lewat di
besarnya jalanan yang sepi itu, seolah
hujan menakuti orang orang untk melakukan aktivitas sehari hari.
Erat memeluk bahu sang adik,
tangan kiri darda pun mulai melepaskan pegangannya, seolah seseorang melukis
senyuman di wajah,mereka pun saling menatap dan tersenyum kecil tepat di depan sd
mutiara sekolah adiknya.
Udah sampai tuh ayo pergi ke kelas!! Ujar darda kepada yasinta,
“iya kak” sambil mencium tangan sang
kakak,yasinta pun berlari ke arah gerbang sekolah.
15 menit pertama bagi darda karena perjalanannya masih
sangat lama untuk mencapai tempatnya bekerja, langkah demi langkah darda tak Nampak
mengeluarkan ekspresinya karena di sisi kanan ataupun kirinya hanya berjejer
rumah besar dan bertingkat yang jarang sekali dia melihat orang untuk sekedar
saling menatap satu sama lain.
Itulah yang membuatnya tertunduk dia mengantar adiknya pergi kesekolah, 30
menit yang ia habiskan untuk kekosongan kini mulai merasakan sedikit antusias
di jantung dan benaknya, muka yang semula tertunduk kini menatap kiri dan kanan
15 menit yang membuatnya merasa tak lagi merasa kesepian.
Mata yang lesu dan lemah kini mulai berbinar, seolah
cahaya lampu restoran derra merasukinya, sebuah restoran yang ramai
pengunjung yang tak pernah masuk akal karena hampir setiap hari restoran itu
tidak pernah sepi, seolah sesuatu menarik pengunjung agar datang kesana.
energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus
novel
Halaman 8
Laba-laba itupun hanya terdiam dan terpaku melihat darda membuka separuh
halaman buku tebal yang dia ambil, lalu darda pun mulai mengangkat buku itu dan
bluuggggg darda menjepit laba laba
itu dengan buku tebalnya.
Seekor serangga besar yang
berbahaya kini hanya bagian dari buku itu.
Darda pun mengangkat kembali
lembaran yang ia gunakan untuk membunuh serangga besar itu, dia mencoba untuk
membersihkan bagian buku yang penuh darah dan menjijikan, darda mengambil lap
dan kantong kresek guna membungkus mayat serangga besar itu, sshssh sshssh secara perlahan dia
mengusap bagian yang kotor sebab ia tak mau buku peninggalan sang kakek rusak
karena ulahnya.
Tulisan di buku yang tak terlihat kini mulai bisa darda
baca
“Wahai mahkluk yang tak berdosa , mendekatlah mendekatlah semakin dekat
agar aku bisa menjadikan kalian layaknya dewa yang abadi”
“surga dan neraka tak berarti bagi kalian karena semua itu takan kalian
rasakan maka mendekatlah wahai saudaraku”
Sebuah petikan yang darda
baca di buku usang itu parasnya yang mulai penasaran membuat reflek tangannya menutup
buku itu dan membaca ringkasan dibalik buku yang ia pegang, sebuah novel
berjudul aku adalah dajjal, novel bergenre misteri yang dia sukai, dia pun
menyimpan dan mengecek buku buku lainnya,
Ternyata kakek punya hobi sepertiku sambil tersenyum dan merapihkan kembali buku-buku yang ia lihat.
Selesai membuang bangkai laba-laba itu darda pun kembali
ke ruang makan dan bergegas untuk sarapan, “udah
pergi kak laba-laba nya?” Tanya sang adik yang ketakutan sembari
mencengkram tangan neneknya,
Sudah kok, udah kakak buang keluar seru darda’
“Yasudah ayo kita sarapan dulu ntar terlambat loh!!!” sahut nenek,
Mereka bertiga pun duduk
manis dan melahap sarapan pagi yang
nenek hidangkan, “nek ayo sarapan bareng” ajak yasinta kepada neneknya,
“Enggak kalian dulu saja yang sarapan nenek entar siang aja” jawab
sang nenek.
Tidak ada yang spesial saat mereka bertiga berkumpul, tak
ada banyak candaan ataupun pertanyaan yang mereka bicarakan, hanya sesekali
menatap satu sama lain dan melempar senyuman manis satu sama lain,
“kak besok kan hari minggu kita main yuk?” ajak yasinta kepada darda,
Emang mau main apa dek darda pun
bertanya balik kepadanya
“main apa aja kak yang penting bisa seharian bareng kakak” jawab yasinta,
Darda pun tersenyum lebar
dan mengiyakan, yaudah ayo terserah
yasinta
Yeahhhhhhhh teriak yasinta mengakhiri obrolan terakhirnya.
Darda dan yasinta selalu pergi bareng tepat pukul 6 pagi
karena jalan dan arah yang sama mereka selalu berjalan bersama menuju tujuan
masing masing.
Langganan:
Postingan (Atom)



