Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2016

baca novel energi psikis online


          
           ENERGI PSIKIS
      Chapter 1                                                                              `senandung`

                  

                      Created by
                =Denis shofiandi=



                                                                                                  klik pendahuluan

Kamis, 29 September 2016

novel energi psikis bab 3 - reaksi

novel energi psikis bab 3 - reaksi

Halaman 12

            Iya bu anna ada yang bisa saya bantu?  darda bukan seorang yang pemalu dengan wajah bekunya dia pun menjawab, selain petugas penjaga keamanan yang datang lebih awal, anna pun sering terlihat siap siaga sebelum darda beraktivitas walaupun sama sekali belum pernah ada orang di hadapannya selain darda sendiri, anna hanya duduk dan berdiam diri dan sesekali dia memainkan ponsel pintarnya.
            “iya nih darda tolong bersihin meja anna, kotor tadi habis minum kopi” seru anna kepada darda, iya bu darda kesana jawab darda mengiyakan,
“gak usah panggil ibu kali, darda” sembari tersenyum kesal anna protes,
Tak ada jawaban dari mulut dingin darda dia hanya tersenyum kecil.
            Darda pun mengambil handuk di lehernya dan mulai menggosokannya ke noda kopi di meja sang resepsionis, ke atas dan bawah gerakan teratur yang dilakukan darda membuat meja yang kusam itu kini mulai cerah dan mengkilat,
Selang di akhir tugasnya di tengah meja, darda mendapati sebuah catatan pena berwarna hitam di meja anna yang bertuliskan angka 3053x “tidak, itu bukan apa-apa!!” seru ana dengan raut wajah yang agak memaksakan tersenyum sembari menatap darda, tak lama anna pun mengambil gunting kukunya dan mengeluarkan pisau kecil yang berada ditengahnya.

            “grkgrkgrk” suara gesekan pisau menghancurkan lapisan cat di meja anna, dengan tangan kanan dia melakukannya berulang-ulang ke arah kiri, “awwww!”  suara anna yang kesakitan karena dia terlalu kencang menggesekan pisau ke mejanya, hingga pisau kecil itu mengenai jempol di tangan kiri anna, dan darah pun mengalir pelan di sela-sela kulit anna yang robek.
            Secara reflek darda pun mengambil beberapa helai tissue dan memegang tangan anna, tetapi tak ada kata-kata kekhawatiran yang darda ungkapkan dia hanya coba menutup dan membersihkan darah yang mengalir di jemari anna.
Rahang yang bergetar dan mata yang bergoyang perlahan terlihat jelas oleh anna,
“darda kamu kenapa?” Tanya anna melihat kejanggalan di raut wajah darda,
Gak apa-apa bu, tunggu sebentar darda mau ngambil obat merah dan plester,
“ya” jawab anna, sembari menunggu darda kembali anna pun membalut tangan nya dengan tissue dan melanjutkan untuk menghapus catatannya.
Tak beberapa lama darda pun datang dan mendekati anna, lalu memegang tangannya, maaf bu saya pegang tangannya sahut darda sembari mengoleskan obat merah ke jemari anna.
Tetapi tak ada jawaban yang diberikan anna, hanya mata yang berbinar dan bibir yang terjepit kedalam mulut, membuat lekukan di pipi anna terlihat begitu tak biasa untuk diperhatikan orang-orang ataupu lelaki dihadapannya itu,
tetapi tukar tatapan mata itu tak pernah terjadi dihadapan anna, hanya hawa dingin yang dirasakannya saat darda sedang memplester jarinya.
Darda pun selesai memplester jari anna yang tertusuk pisau kecil, sudah bu
Sahut darda sambil menatap dingin anna , “lain kali kalau mau pegang tangan bilang dulu, baru saya jawab”  seru anna dengan tangan kanan yang memegang pinggang dan memasang muka marah yang terpaksa, iya maaf bu jawab darda,

Anna pun membalas dengan tawa kecilnya, “ yasudah beres beres lagi sana”
novel energi psikis bab 3 - reaksi

novel energi psikis bab 3 - reaksi

                   Bab 3 reaksi
Halaman 11


            Tak ada langkah yang terburu-buru disetiap pijak kakinya, darda pun tetap konstan dengan pergerakannya itu, di depan pelataran yang luas nan hijau berdiri kokoh sebuah perusahaan besar yang menjadi tempat darda mencari nafkah.
Dennis corp itulah nama perusahaan besar itu, perusahaan yang tak banyak darda ketahui meskipun banyak orag orang yang berada disana, tetap bibirnya yang beku enggan untuk sekedar berbicang ataupun bertanya.
            Darda hanya mengetahui sedikit hal dari apa yang dia lihat, bahwa orang orang yang berada disana begitu ramai dan sibuk dengan pekerjaannya masing masing.

            Hujan masih saja turun dan Tak kunjug reda, tak ada sapa ataupun salam yang dia dapatkan, tepat pukul setengah delapan darda pun mulai mempersiapkan alat pekerjaannya, dia berjalan ke arah loker dan mengambil handuk kecil di dalam tasnya dan di lingkarkannya tepat di lehernya sebab darda tak ingin peluhnya membasahi lantai yang sudah dia bersihkan, dan tak lupa dia membawa buku catatan dan pulpen guna mencatat ruangan mana saja yang telah dia bersihkan, sambil membawa sapu, perjalanan lamanya pun mulai di hadapi.

            Begitu banyak ruangan yang berada  di perusahaan ini, tercatat ada 324 ruangan dari 10 lantai yang tinggi menjulang di perusahaan ini, dan yang darda tahu bahwa perusahaan ini bukanlah sebuah hotel atau sejenis tempat penginapan.
Dia hanya melihat orang orang mengerjakan ribuan berkas yang tersusun rapih di setiap ruangannya.
            Seperti biasanya darda mengawali tugas di area paling bawah yaitu sebuah ruangan resepsionis, ruangan itu tak begitu ramai karena karyawan maupun staff datang silih berganti tepat pukul 10 nanti, sudut demi sudut darda bersihkan begitu teliti dan seksama, debu bercampur tanah yang di tinggalkan jejak sepatu mereka di hari kemarin menjadi ladang pekerjaan untuk darda.
Dingin dan beku lekat merasuki kepalanya, tak ada sesuatu yang membuat dirinya tertarik dan sekedar untuk melirik, darda hanya tertunduk dan fokus dengan pekerjaannya.

            “hay, darda bisa tolong sebentar kesini bantuin aku” teriak Anna seorang resepsionis perempuan yang cantik berambut panjang seperti jalanan sutera yang halus terurai warna pirang rambutnya membuat orang orang silau melihatnya, pun bibirnya yang tipis berlipstik orange menghiasinya,kulit putihnya bak lautan susu yang membuat semua orang ingin menyelaminya juga badannya yang dibungkus pakaian formal berwarna hitam membuat anna begitu sempurna dan terlihat menawan.
                                                                                             halaman 12
            

Rabu, 28 September 2016

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

Halaman 10


Bukan karena ramai ataupun karena ingin memasuki restoran itu melainkan karena senyuman para waitress yang membuat dirinya tenang walupun senyuman walaupun senyuman itu benar benar bukan untuk dirinya.

Sepuluh langkah dikanan seberang restoran derra berdiri sebuah rumah opera, sebuah tempat yang bernama glory opera house, darda tak banyak tahu tentang tempat ini karena ia sama sekali tak mempunyai cukup waktu untuk sekedar memasuki tempat tersebut dan darda tak pernah tahu jam ataupun kapan opera house itu dibuka?,

            “ayo cepat, cepat bawa pasiennya ke dalam!!!” teriak beberapa pria yang berada di depan rumah sakit eva, 20 meter di depan opera house berdiri sebuah rumah sakit terkenal dan megah yang pernah darda lihat, hampir setiap hari dirinyamelihat pasien yang dalam keadaan parah harus dirawat di rumah sakit itu, tempat inilah yang membuat darda diberi peringatan oleh managernya karena di anggap bermain saat jam bekerja, sesuatu yang aneh mencoba menarik saya kesana jawaban terakhir darda yang di ungkapkan ke managernya, “karena kamu pasien rumah sakit gila!!! hahaha” seru sang manager tempo hari itu.

            Di sepuluh menit terakhir dua tempat yang juga menarik membuat mata dan hatinya sedikit terhibur, yaitu rocco tempat hewan peliharaan dititipkan, dan bar blues sebuah bar yang tentunya hanya bisa ia lihat saat darda pulang bekerja nanti malam.
            Langkah demi langkah benar-benar darda resapi walaupun gerak kakinya sungguh tak bisa ia atur, entah karena tuntutan pekerjaan atau karena terbiasa.
Sampai di 5 menit terakhir darda harus menunggu beberapa menit karena sebuah kereta besar nan panjang setia melewati jalannya untuk bekerja dan langkah itupun berhenti seketika, walupun sebagian orang menerobos masukuntuk menyeberang tetapi tidak untuk darda, “breeenggg zgzgzgzezgz” kereta api yang melintas dihadapan darda, tanpa ekspresi dia mengikuti pergerakan kereta api yang berjalan cepat.

            Darda pun melangkah kembali, tak ada yang istimewa di sisa perjalanan ke tempat bekerjanya hanya ada sebuah tempat pemakaman umum bernama tanah wetan sebuah pemakaman yang cukup indah dan menarik,
Kalaupu aku mati disini, aku tak pernah mau di makamkan disini!!! Petikan darda saat pertama kali melihat tempat pemakaman itu, tepat di ujung jalan sebuah  perusahaan besar bernama DENNIS CORP terlihat di jelas di hadapannya tempat darda mencari nafkah.


Perjalanan panjang menuju tambang cahaya, tanpa disadari mengorbankan banyak waktu dan fikiran, menit-menit yang darda gunakan tidak pernah berputar melainkan tegak lurus dihadapannya
                                                                                                             halaman 11
energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

Halaman 9

            Sebab cuaca di pagi hari ini tak seperti hari hari biasanya, mereka pun berpamitan pada sang nenek “nek berangkat dulu ya assalamuallaikum” ujar darda dan yasinta, Waallaikumsallam jawab sang nenek, mereka pun bergegas meninggalkan rumah dan mulai melangkahkan diri.
            Jarak sekolah yasinta hanya sekitar 15 menit dari rumahnya, adik darda yang sudah duduk di kelas 5 sd itu umurnya baru memasuki tahun ke 8 karena menurut para guru dia benar benar terlampau pintar hingga para guru memaksanya untuk langsung masuk ke kelas 5 sekolah dasar, walaupun yasinta baru sekolah disana 2 minggu yang lalu sejak mereka pindah kerumah neneknya.

            Hujan masih saja tetap setia membasahi disetiap sudut jalan yang tak begitu ramai, tak banyak yang mereka perbincangan selama adik dan kakak itu berjalan, hanya pertanyaan biasa yang sering dilontarkan yasinta kepada kakaknya.
Gedung dan toko berjejer berderetan rapihseolah menyambut kedatangan mereka, disepanjang jalan tak Nampak hal spesial yang bisa mereka ingat ataupun perhatikan untuk sekedar membawanya pulang dan menjadi bahan perbincangan dirumah.
            Hanya beberapa mobil dan motor yang lewat di besarnya  jalanan yang sepi itu, seolah hujan menakuti orang orang untk melakukan aktivitas sehari hari.
Erat memeluk bahu sang adik, tangan kiri darda pun mulai melepaskan pegangannya, seolah seseorang melukis senyuman di wajah,mereka pun saling menatap dan tersenyum kecil tepat di depan sd mutiara sekolah adiknya.
Udah sampai tuh ayo pergi ke kelas!! Ujar darda kepada yasinta,
“iya kak” sambil mencium tangan sang kakak,yasinta pun berlari ke arah gerbang sekolah.

            15 menit pertama bagi darda karena perjalanannya masih sangat lama untuk mencapai tempatnya bekerja, langkah demi langkah darda tak Nampak mengeluarkan ekspresinya karena di sisi kanan ataupun kirinya hanya berjejer rumah besar dan bertingkat yang jarang sekali dia melihat orang untuk sekedar saling menatap satu sama lain.
            Itulah yang membuatnya tertunduk  dia mengantar adiknya pergi kesekolah, 30 menit yang ia habiskan untuk kekosongan kini mulai merasakan sedikit antusias di jantung dan benaknya, muka yang semula tertunduk kini menatap kiri dan kanan 15 menit yang membuatnya merasa tak lagi merasa kesepian.
            Mata yang lesu dan lemah kini mulai berbinar, seolah cahaya lampu restoran derra merasukinya, sebuah restoran yang ramai pengunjung yang tak pernah masuk akal karena hampir setiap hari restoran itu tidak pernah sepi, seolah sesuatu menarik pengunjung agar datang kesana.

                                                                                                            halaman 10

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus


Halaman 8

            Laba-laba itupun hanya terdiam dan terpaku melihat darda membuka separuh halaman buku tebal yang dia ambil, lalu darda pun mulai mengangkat buku itu dan bluuggggg darda menjepit laba laba itu dengan buku tebalnya.
Seekor serangga besar yang berbahaya kini hanya bagian dari buku itu.
Darda pun mengangkat kembali lembaran yang ia gunakan untuk membunuh serangga besar itu, dia mencoba untuk membersihkan bagian buku yang penuh darah dan menjijikan, darda mengambil lap dan kantong kresek guna membungkus mayat serangga besar itu, sshssh sshssh secara perlahan dia mengusap bagian yang kotor sebab ia tak mau buku peninggalan sang kakek rusak karena ulahnya.
            Tulisan di buku yang tak terlihat kini mulai bisa darda baca
“Wahai mahkluk yang tak berdosa , mendekatlah mendekatlah semakin dekat agar aku bisa menjadikan kalian layaknya dewa yang abadi”
“surga dan neraka tak berarti bagi kalian karena semua itu takan kalian rasakan maka mendekatlah wahai saudaraku”
Sebuah petikan yang darda baca di buku usang itu parasnya yang mulai penasaran membuat reflek tangannya menutup buku itu dan membaca ringkasan dibalik buku yang ia pegang, sebuah novel berjudul aku adalah dajjal, novel bergenre misteri yang dia sukai, dia pun menyimpan dan mengecek buku buku lainnya,
Ternyata kakek punya hobi sepertiku sambil tersenyum dan merapihkan kembali buku-buku yang ia lihat.

            Selesai membuang bangkai laba-laba itu darda pun kembali ke ruang makan dan bergegas untuk sarapan, “udah pergi kak laba-laba nya?” Tanya sang adik yang ketakutan sembari mencengkram tangan neneknya,
Sudah kok, udah kakak buang keluar seru darda’
“Yasudah ayo kita sarapan dulu ntar terlambat loh!!!” sahut nenek,
Mereka bertiga pun duduk manis dan melahap  sarapan pagi yang nenek hidangkan,  “nek ayo sarapan bareng” ajak yasinta kepada neneknya,
“Enggak kalian dulu saja yang sarapan nenek entar siang aja” jawab sang nenek.
            Tidak ada yang spesial saat mereka bertiga berkumpul, tak ada banyak candaan ataupun pertanyaan yang mereka bicarakan, hanya sesekali menatap satu sama lain dan melempar senyuman manis satu sama lain,
“kak besok kan hari minggu kita main yuk?” ajak yasinta kepada darda,
Emang mau main apa dek darda pun bertanya balik kepadanya
“main apa aja kak yang penting bisa seharian bareng kakak” jawab yasinta,
Darda pun tersenyum lebar dan mengiyakan, yaudah ayo terserah yasinta
Yeahhhhhhhh  teriak yasinta mengakhiri obrolan terakhirnya.

            Darda dan yasinta selalu pergi bareng tepat pukul 6 pagi karena jalan dan arah yang sama mereka selalu berjalan bersama menuju tujuan masing masing.

Sang nenek pun membawa kan mereka dua buah payung kepada cucu kesayangannya,
                                                                                                                               halaman 9