Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2016

baca novel energi psikis online


          
           ENERGI PSIKIS
      Chapter 1                                                                              `senandung`

                  

                      Created by
                =Denis shofiandi=



                                                                                                  klik pendahuluan

Kamis, 29 September 2016

novel energi psikis bab 3 - reaksi

novel energi psikis bab 3 - reaksi

Halaman 12

            Iya bu anna ada yang bisa saya bantu?  darda bukan seorang yang pemalu dengan wajah bekunya dia pun menjawab, selain petugas penjaga keamanan yang datang lebih awal, anna pun sering terlihat siap siaga sebelum darda beraktivitas walaupun sama sekali belum pernah ada orang di hadapannya selain darda sendiri, anna hanya duduk dan berdiam diri dan sesekali dia memainkan ponsel pintarnya.
            “iya nih darda tolong bersihin meja anna, kotor tadi habis minum kopi” seru anna kepada darda, iya bu darda kesana jawab darda mengiyakan,
“gak usah panggil ibu kali, darda” sembari tersenyum kesal anna protes,
Tak ada jawaban dari mulut dingin darda dia hanya tersenyum kecil.
            Darda pun mengambil handuk di lehernya dan mulai menggosokannya ke noda kopi di meja sang resepsionis, ke atas dan bawah gerakan teratur yang dilakukan darda membuat meja yang kusam itu kini mulai cerah dan mengkilat,
Selang di akhir tugasnya di tengah meja, darda mendapati sebuah catatan pena berwarna hitam di meja anna yang bertuliskan angka 3053x “tidak, itu bukan apa-apa!!” seru ana dengan raut wajah yang agak memaksakan tersenyum sembari menatap darda, tak lama anna pun mengambil gunting kukunya dan mengeluarkan pisau kecil yang berada ditengahnya.

            “grkgrkgrk” suara gesekan pisau menghancurkan lapisan cat di meja anna, dengan tangan kanan dia melakukannya berulang-ulang ke arah kiri, “awwww!”  suara anna yang kesakitan karena dia terlalu kencang menggesekan pisau ke mejanya, hingga pisau kecil itu mengenai jempol di tangan kiri anna, dan darah pun mengalir pelan di sela-sela kulit anna yang robek.
            Secara reflek darda pun mengambil beberapa helai tissue dan memegang tangan anna, tetapi tak ada kata-kata kekhawatiran yang darda ungkapkan dia hanya coba menutup dan membersihkan darah yang mengalir di jemari anna.
Rahang yang bergetar dan mata yang bergoyang perlahan terlihat jelas oleh anna,
“darda kamu kenapa?” Tanya anna melihat kejanggalan di raut wajah darda,
Gak apa-apa bu, tunggu sebentar darda mau ngambil obat merah dan plester,
“ya” jawab anna, sembari menunggu darda kembali anna pun membalut tangan nya dengan tissue dan melanjutkan untuk menghapus catatannya.
Tak beberapa lama darda pun datang dan mendekati anna, lalu memegang tangannya, maaf bu saya pegang tangannya sahut darda sembari mengoleskan obat merah ke jemari anna.
Tetapi tak ada jawaban yang diberikan anna, hanya mata yang berbinar dan bibir yang terjepit kedalam mulut, membuat lekukan di pipi anna terlihat begitu tak biasa untuk diperhatikan orang-orang ataupu lelaki dihadapannya itu,
tetapi tukar tatapan mata itu tak pernah terjadi dihadapan anna, hanya hawa dingin yang dirasakannya saat darda sedang memplester jarinya.
Darda pun selesai memplester jari anna yang tertusuk pisau kecil, sudah bu
Sahut darda sambil menatap dingin anna , “lain kali kalau mau pegang tangan bilang dulu, baru saya jawab”  seru anna dengan tangan kanan yang memegang pinggang dan memasang muka marah yang terpaksa, iya maaf bu jawab darda,

Anna pun membalas dengan tawa kecilnya, “ yasudah beres beres lagi sana”
novel energi psikis bab 3 - reaksi

novel energi psikis bab 3 - reaksi

                   Bab 3 reaksi
Halaman 11


            Tak ada langkah yang terburu-buru disetiap pijak kakinya, darda pun tetap konstan dengan pergerakannya itu, di depan pelataran yang luas nan hijau berdiri kokoh sebuah perusahaan besar yang menjadi tempat darda mencari nafkah.
Dennis corp itulah nama perusahaan besar itu, perusahaan yang tak banyak darda ketahui meskipun banyak orag orang yang berada disana, tetap bibirnya yang beku enggan untuk sekedar berbicang ataupun bertanya.
            Darda hanya mengetahui sedikit hal dari apa yang dia lihat, bahwa orang orang yang berada disana begitu ramai dan sibuk dengan pekerjaannya masing masing.

            Hujan masih saja turun dan Tak kunjug reda, tak ada sapa ataupun salam yang dia dapatkan, tepat pukul setengah delapan darda pun mulai mempersiapkan alat pekerjaannya, dia berjalan ke arah loker dan mengambil handuk kecil di dalam tasnya dan di lingkarkannya tepat di lehernya sebab darda tak ingin peluhnya membasahi lantai yang sudah dia bersihkan, dan tak lupa dia membawa buku catatan dan pulpen guna mencatat ruangan mana saja yang telah dia bersihkan, sambil membawa sapu, perjalanan lamanya pun mulai di hadapi.

            Begitu banyak ruangan yang berada  di perusahaan ini, tercatat ada 324 ruangan dari 10 lantai yang tinggi menjulang di perusahaan ini, dan yang darda tahu bahwa perusahaan ini bukanlah sebuah hotel atau sejenis tempat penginapan.
Dia hanya melihat orang orang mengerjakan ribuan berkas yang tersusun rapih di setiap ruangannya.
            Seperti biasanya darda mengawali tugas di area paling bawah yaitu sebuah ruangan resepsionis, ruangan itu tak begitu ramai karena karyawan maupun staff datang silih berganti tepat pukul 10 nanti, sudut demi sudut darda bersihkan begitu teliti dan seksama, debu bercampur tanah yang di tinggalkan jejak sepatu mereka di hari kemarin menjadi ladang pekerjaan untuk darda.
Dingin dan beku lekat merasuki kepalanya, tak ada sesuatu yang membuat dirinya tertarik dan sekedar untuk melirik, darda hanya tertunduk dan fokus dengan pekerjaannya.

            “hay, darda bisa tolong sebentar kesini bantuin aku” teriak Anna seorang resepsionis perempuan yang cantik berambut panjang seperti jalanan sutera yang halus terurai warna pirang rambutnya membuat orang orang silau melihatnya, pun bibirnya yang tipis berlipstik orange menghiasinya,kulit putihnya bak lautan susu yang membuat semua orang ingin menyelaminya juga badannya yang dibungkus pakaian formal berwarna hitam membuat anna begitu sempurna dan terlihat menawan.
                                                                                             halaman 12
            

Rabu, 28 September 2016

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

Halaman 10


Bukan karena ramai ataupun karena ingin memasuki restoran itu melainkan karena senyuman para waitress yang membuat dirinya tenang walupun senyuman walaupun senyuman itu benar benar bukan untuk dirinya.

Sepuluh langkah dikanan seberang restoran derra berdiri sebuah rumah opera, sebuah tempat yang bernama glory opera house, darda tak banyak tahu tentang tempat ini karena ia sama sekali tak mempunyai cukup waktu untuk sekedar memasuki tempat tersebut dan darda tak pernah tahu jam ataupun kapan opera house itu dibuka?,

            “ayo cepat, cepat bawa pasiennya ke dalam!!!” teriak beberapa pria yang berada di depan rumah sakit eva, 20 meter di depan opera house berdiri sebuah rumah sakit terkenal dan megah yang pernah darda lihat, hampir setiap hari dirinyamelihat pasien yang dalam keadaan parah harus dirawat di rumah sakit itu, tempat inilah yang membuat darda diberi peringatan oleh managernya karena di anggap bermain saat jam bekerja, sesuatu yang aneh mencoba menarik saya kesana jawaban terakhir darda yang di ungkapkan ke managernya, “karena kamu pasien rumah sakit gila!!! hahaha” seru sang manager tempo hari itu.

            Di sepuluh menit terakhir dua tempat yang juga menarik membuat mata dan hatinya sedikit terhibur, yaitu rocco tempat hewan peliharaan dititipkan, dan bar blues sebuah bar yang tentunya hanya bisa ia lihat saat darda pulang bekerja nanti malam.
            Langkah demi langkah benar-benar darda resapi walaupun gerak kakinya sungguh tak bisa ia atur, entah karena tuntutan pekerjaan atau karena terbiasa.
Sampai di 5 menit terakhir darda harus menunggu beberapa menit karena sebuah kereta besar nan panjang setia melewati jalannya untuk bekerja dan langkah itupun berhenti seketika, walupun sebagian orang menerobos masukuntuk menyeberang tetapi tidak untuk darda, “breeenggg zgzgzgzezgz” kereta api yang melintas dihadapan darda, tanpa ekspresi dia mengikuti pergerakan kereta api yang berjalan cepat.

            Darda pun melangkah kembali, tak ada yang istimewa di sisa perjalanan ke tempat bekerjanya hanya ada sebuah tempat pemakaman umum bernama tanah wetan sebuah pemakaman yang cukup indah dan menarik,
Kalaupu aku mati disini, aku tak pernah mau di makamkan disini!!! Petikan darda saat pertama kali melihat tempat pemakaman itu, tepat di ujung jalan sebuah  perusahaan besar bernama DENNIS CORP terlihat di jelas di hadapannya tempat darda mencari nafkah.


Perjalanan panjang menuju tambang cahaya, tanpa disadari mengorbankan banyak waktu dan fikiran, menit-menit yang darda gunakan tidak pernah berputar melainkan tegak lurus dihadapannya
                                                                                                             halaman 11
energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

Halaman 9

            Sebab cuaca di pagi hari ini tak seperti hari hari biasanya, mereka pun berpamitan pada sang nenek “nek berangkat dulu ya assalamuallaikum” ujar darda dan yasinta, Waallaikumsallam jawab sang nenek, mereka pun bergegas meninggalkan rumah dan mulai melangkahkan diri.
            Jarak sekolah yasinta hanya sekitar 15 menit dari rumahnya, adik darda yang sudah duduk di kelas 5 sd itu umurnya baru memasuki tahun ke 8 karena menurut para guru dia benar benar terlampau pintar hingga para guru memaksanya untuk langsung masuk ke kelas 5 sekolah dasar, walaupun yasinta baru sekolah disana 2 minggu yang lalu sejak mereka pindah kerumah neneknya.

            Hujan masih saja tetap setia membasahi disetiap sudut jalan yang tak begitu ramai, tak banyak yang mereka perbincangan selama adik dan kakak itu berjalan, hanya pertanyaan biasa yang sering dilontarkan yasinta kepada kakaknya.
Gedung dan toko berjejer berderetan rapihseolah menyambut kedatangan mereka, disepanjang jalan tak Nampak hal spesial yang bisa mereka ingat ataupun perhatikan untuk sekedar membawanya pulang dan menjadi bahan perbincangan dirumah.
            Hanya beberapa mobil dan motor yang lewat di besarnya  jalanan yang sepi itu, seolah hujan menakuti orang orang untk melakukan aktivitas sehari hari.
Erat memeluk bahu sang adik, tangan kiri darda pun mulai melepaskan pegangannya, seolah seseorang melukis senyuman di wajah,mereka pun saling menatap dan tersenyum kecil tepat di depan sd mutiara sekolah adiknya.
Udah sampai tuh ayo pergi ke kelas!! Ujar darda kepada yasinta,
“iya kak” sambil mencium tangan sang kakak,yasinta pun berlari ke arah gerbang sekolah.

            15 menit pertama bagi darda karena perjalanannya masih sangat lama untuk mencapai tempatnya bekerja, langkah demi langkah darda tak Nampak mengeluarkan ekspresinya karena di sisi kanan ataupun kirinya hanya berjejer rumah besar dan bertingkat yang jarang sekali dia melihat orang untuk sekedar saling menatap satu sama lain.
            Itulah yang membuatnya tertunduk  dia mengantar adiknya pergi kesekolah, 30 menit yang ia habiskan untuk kekosongan kini mulai merasakan sedikit antusias di jantung dan benaknya, muka yang semula tertunduk kini menatap kiri dan kanan 15 menit yang membuatnya merasa tak lagi merasa kesepian.
            Mata yang lesu dan lemah kini mulai berbinar, seolah cahaya lampu restoran derra merasukinya, sebuah restoran yang ramai pengunjung yang tak pernah masuk akal karena hampir setiap hari restoran itu tidak pernah sepi, seolah sesuatu menarik pengunjung agar datang kesana.

                                                                                                            halaman 10

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus


Halaman 8

            Laba-laba itupun hanya terdiam dan terpaku melihat darda membuka separuh halaman buku tebal yang dia ambil, lalu darda pun mulai mengangkat buku itu dan bluuggggg darda menjepit laba laba itu dengan buku tebalnya.
Seekor serangga besar yang berbahaya kini hanya bagian dari buku itu.
Darda pun mengangkat kembali lembaran yang ia gunakan untuk membunuh serangga besar itu, dia mencoba untuk membersihkan bagian buku yang penuh darah dan menjijikan, darda mengambil lap dan kantong kresek guna membungkus mayat serangga besar itu, sshssh sshssh secara perlahan dia mengusap bagian yang kotor sebab ia tak mau buku peninggalan sang kakek rusak karena ulahnya.
            Tulisan di buku yang tak terlihat kini mulai bisa darda baca
“Wahai mahkluk yang tak berdosa , mendekatlah mendekatlah semakin dekat agar aku bisa menjadikan kalian layaknya dewa yang abadi”
“surga dan neraka tak berarti bagi kalian karena semua itu takan kalian rasakan maka mendekatlah wahai saudaraku”
Sebuah petikan yang darda baca di buku usang itu parasnya yang mulai penasaran membuat reflek tangannya menutup buku itu dan membaca ringkasan dibalik buku yang ia pegang, sebuah novel berjudul aku adalah dajjal, novel bergenre misteri yang dia sukai, dia pun menyimpan dan mengecek buku buku lainnya,
Ternyata kakek punya hobi sepertiku sambil tersenyum dan merapihkan kembali buku-buku yang ia lihat.

            Selesai membuang bangkai laba-laba itu darda pun kembali ke ruang makan dan bergegas untuk sarapan, “udah pergi kak laba-laba nya?” Tanya sang adik yang ketakutan sembari mencengkram tangan neneknya,
Sudah kok, udah kakak buang keluar seru darda’
“Yasudah ayo kita sarapan dulu ntar terlambat loh!!!” sahut nenek,
Mereka bertiga pun duduk manis dan melahap  sarapan pagi yang nenek hidangkan,  “nek ayo sarapan bareng” ajak yasinta kepada neneknya,
“Enggak kalian dulu saja yang sarapan nenek entar siang aja” jawab sang nenek.
            Tidak ada yang spesial saat mereka bertiga berkumpul, tak ada banyak candaan ataupun pertanyaan yang mereka bicarakan, hanya sesekali menatap satu sama lain dan melempar senyuman manis satu sama lain,
“kak besok kan hari minggu kita main yuk?” ajak yasinta kepada darda,
Emang mau main apa dek darda pun bertanya balik kepadanya
“main apa aja kak yang penting bisa seharian bareng kakak” jawab yasinta,
Darda pun tersenyum lebar dan mengiyakan, yaudah ayo terserah yasinta
Yeahhhhhhhh  teriak yasinta mengakhiri obrolan terakhirnya.

            Darda dan yasinta selalu pergi bareng tepat pukul 6 pagi karena jalan dan arah yang sama mereka selalu berjalan bersama menuju tujuan masing masing.

Sang nenek pun membawa kan mereka dua buah payung kepada cucu kesayangannya,
                                                                                                                               halaman 9
energi psikis chapter 1 bab2 - lurus

energi psikis chapter 1 bab2 - lurus


Halaman 7

            Selesai berbincang pendek dengan sang adik darda pun berjalan kearah kamar mandi guna mengambil wudhu dan bersiap untuk beribadah, tak ada peraturan di rumah ini tetapi sudah seperti film yang berulang darda pun selalu melihat sang nenek di pinggirnya yang sedang menghangatkan makanan semalam.
Nenek tersenyum pelan di hadapan darda, juga sebuah balasan senyuman kecil yang darda berikan ke pada sang nenek,
            Di ambilnya sarung dan baju koko yang hanya darda pakai pada saat shalat subuh, darda benar benar tak ingin keluh kesah nya melekat di baju sehari harinya lantas dia selalu beribadah menggunakan pakaian yang benar-benar bersih dan suci, gerak demi gerakan dipertunjukan olehnya begitu khusyuk dia melakukannya, gerakan sujud yang ia lakukan lebih lama ketimbang orang lain yang beribadah seolah pertanda bahwa dia memberikan seluruh isi fikirannya kepada sang maha penguasa.
            Ya ALLAH tolong jagalah keluarga hamba yang sangat sederhana ini, ampunkanlah semua kesalahan keluarga hamba, tak ada air mata ataupun getaran pedih di bibirnya dan tak pernah dia membuat doa untuk dirinya sendiri hanya itulah petikan doa darda yang selalu ia katakan disetiap akhir shalatnya.

            Setelah beribadah dan merapikan alat shalatnya, darda bergegas mengganti pakaiannya dan bersiap untuk melakukan pekerjaannya lagi.
“darda ayo sarapan pagi dulu nih!” seru sang nenek,
Selesai mengganti pakaian kerja Darda pun coba memasukan handphone kedalam tasnya, krek krek krek suara tas yang sudah mulai macet, gerakan aneh di dalam tasnya membuat darda penasaran apa yang berada disana, dia mengeluarkan semua alat kerja yang ada didalam tasnya, satu per satu ia keluarkan dari mulai pulpen hingga buku catatan dia keluarkan, hingga akhirnya ia melihat bayangan hitam yag bergerak begitu cepat di tas jinjingnya, seekor laba laba yang cukup besar dan membuat semua orang yang melihat pasti akan ketakutan.
            Tetapi tak ada ekspresi yang menunjukan bahwa ia ketakutan, darda hanya berfikir laba-laba ini jangan sampai menyakiti yasinta dan neneknya.
Darda pun mengangkat tas jinjingnya dan mencoba untuk membawanya keluar rumah, sesaat dia membuka pintu ternyata laba-laba itu meloncat keluar dan menjauhi darda, sontak darda pun berlari coba menangkap laba-laba itu.
Nenek yasinta awas ada laba-laba besar!!! teriak darda ,
Yasinta dan nenek pun kontan berlari ke pinggir lemari televisi, serangga besar itu tak pandai menyembunyikan diri karena badan besarnya itu membuat darda mudah mengejarnya sampai di pojok rumah, diruangan yang belum pernah darda eksplorasi, sebuah ruangan kecil penuh buku peninggalan sang kakek.


            Di Ruangan yang sumpek dan tidak menarik hatinya itu pun darda menemukan serangga besar dibalik buku di rak setinggi dua meter yang sesak  sebab di penuhi ratusan buku tebal, darda pun mengambil satu buku yang menjadi persembunyiannya,
                                                                                                                              halaman 8
energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus

energi psikis chapter 1 bab 2 - lurus


Bab 2 lurus
Halaman 6

            Gelap dan hampa menjadi instrumen yang mengagumkan untuk ku olah dan kerjakan, angan dan harapan seolah berdansa mengikuti perintahku, akulah penguasa di dunia ini, dunia yang tak perlu aku kelola dengan busuk dan buruknya sebuah aturan, ataupun ringkihnya sebuah keyakinan di dunia ini aku menciptakan yang tak pernah ku buat, di dunia ini sempurna adalah kenyataan.
Pertama kali rintik hujan muncul di pagi buta ini, suasana hening kental terasa di telinganya begitupun cuaca yang sangat dingin melekat di sekujur badannya, waktu seolah bergerak pelan mengikuti pergerakan bola matanya,
            Mata yang gelisah seolah mencoba keras mengangkat kelopak yang begitu berat untuk terbuka, seperti hari-hari sebelumnya darda selalu terbangun sebelum alarm di handphone nya berdering, tetapi tak ada yang bisa dia perbuat di atas kasurnya yang tipis ia hanya terlentang di samping pintu jendela tanpa gorden,
Mengumpulkan sisa sisa memori yang dia punya dan membuat sepercik imaji yang tak pernah bisa mengontrolnya.
Tetapi Tak ada getaran di tubuh darda, tak ada banyak gerakan yang dia lakukan, seolah seperti sebongkah kayu yang pasrah terbawa arus sungai yang deras mengalir menunggu luasnya lautan lepas, darda hanya menunggu alarm berbunyi dan hingga matanya terbuka kemudian.

            “dzzzdzzzdzz kring kring” suara alarm berbunyi beradu dengan getaran handphone di atas meja kecilnya, tepat pukul 5 dini hari darda mulai terbangun layaknya lagu lama yang populer dan terus dia dengar setiap hari.
Darda tak pernah mematikan alarmnya, dia hanya menunggu suara di handphone nya berhenti sendiri, memaksa suara alarm masuk ke gendang telinganya berharap alunan kencang itu memasuki jiwa dan benaknya, membangunkan semua tanda Tanya yang merasuki otaknya.
memasang raut muka yang penuh kebingungan seolah olah topeng membelenggui seluruh wajahnya, raut wajah itu tak pernah ia lihat meskipun kaca besar di hadapannya terpampang jelas di balik ekspresinya.
Sementara alarm yang kian berbunyi kencang bergerak tak beraturan, membuat handphone darda hampir jatuh di hadapannya, semenit berselang suara keras itu terhenti dibarengi langkah kaki darda yang mulai berjalan keluar kamarnya.

            “pagi kak?” sahut yasinta, sembari dia lambaikan tangan kanan kearah darda, senyum tulus terpampang jelas di raut wajah yasinta gerakan lincahnya bak kelinci lucu yang menunggu sang kakak memeluknya,
ya jawab darda senyum lebar pun dia berikan, usapan halusnya mendarat pelan di atas kepala sang adik, tetapi pelukan itu tak pernah yasinta dapatkan.
Aku tak mau semua ragu dan gelisah ini menempel dan meresap ke pelukan adikku, suara hati darda yang tak pernah bisa ia utarakan.

Tetapi yang darda tahu bahwa kasih sayangnya lebih besar daripada yang mereka lihat dan rasakan.
                                                                                                                    halaman 7

Selasa, 27 September 2016

novel energi psikis bab1 - ritual




Halaman 5


Rentetan gigi yang beradu membuat rahangnya tertekan kencang, mata yang begitu antusias melihat adegan frame per frame yang ia perhatikan.
“Tolong berikan saya satu kesempatan untuk hidup” seorang pemuda dengan palu di tangan menghujani perempuan cantik dengan senjata yang dia pegang, tanpa ampun dan belas kasihan sang pemuda membuat darah di kepala sang wanita mengalir deras di bawah kakinya. Apa kau pernah memberikanku kesempatan?, apa kau pernah memberiku hidup tenang tanpa kesakitan? , jawab? teriak penjahat gila yang terus saja menghujam palu nya walau sang wanita sudah tak mungkin bergerak.
            “krek krek” bunyi gesekan tangan darda yang bergesek dengan licinnya kulit sofa, dan tanpa rasa ketakutan ia pun tetap antusias melihat adegan tersebut.
Hampir ¾ acara film yang ia tonton akan selesai, tak banyak gerak yang ia perlihatkan darda hanya focus dan coba mengulang puzzle dan misteri yang ia lihat saat iklan di telivisi muncul, ia benar benar teliti mengingat momen per momen di film tersebut.
            “dor dor dor dor” suara pistol yang terus di tembakan ke perut sang pembunuh kejam tadi “kau penjahat gila mati saja” penjahat yang membunuh kekasih pujaannya dengan kejam dan sadis, dia masih tetap tersenyum walau pun tubuhnya dibanjiri peluru dan darah.
Apa aku salah?
Apa diriku buruk?
Apakah keburukan tidak bisa diperbaiki? Kutipan sang penjahat di akhir hidupnya.

            Pas jam 12 malam begitupun film yang darda tonton usai sudah, lantas ia pun menggeser kembali sofa ketempat semula dan bergegas mengistirahatkan badannya untuk esok hari.
Huffth udara yang keluar dari mulut darda membuat oksigen bercampur lelah diruangan itu,
            Sembari merenggangkan badannya ia pun men-seting alarm di handphone yang begitu sederhana lalu menarik selimut tepat ke atas bahunya dan mulai menutup matanya, cahaya pun mulai menghilang dan gelap mulai menyelimuti pandangannya,tak ada suara yang mengganggunya, yang ada benar benar kekosongan.

Siang dan malam , di hari cerah maupun gelap semua selalu ter-ulang seperti sebuah ritual yang harus di kerjakan.
                                                                                                                             halaman 6

novel energi psikis bab1 - ritual




Halaman 4


            Hamper setengah mangkuk nasi habis di santap oleh darda, saking laparnya darda pun lupa untuk mengajak nenek untuk makan bersama, nek ayo makan ? sejak darda pindah kesini darda belum pernah makan bareng nenek! Walaupun di hari libur darda?
Sang nenek tertawa kecil “gak kenapa-napa kok orang nenek udah makan barang yasinta, sebelum kamu pulang bekerja , soalnya yasinta gakpernah mau makan kalo gak di temani nenek” ujar sang nenek.
Yasudah nek, nenek istirahat dulu saja, sisanya biar darda yang beresin!.
“okedeh” sahut nenek dengan seyum lembutnya sembari mengangkat kedua ibu jarinya.
“jangan lupa ya kunci pintu depanya !” sahut nenek yang mulai beranjak pergi menemani yasinta tidur.

            Mangkuk yang semula penuh kini habis tak tersisa, tak ada sebiji pun nasi di atas mangkuknya yang begitu mengkilat seolah belum pernah ia pakai, selesai mengisi perut darda pun mencuci mangkuk yang di pakainya, lalu kembali keruang makan dan menutup sisa lauk yang di masak tadi ke dalam lemari makan.
mungkin semua orang akan bosan jika melihatku seperti ini setiap saat, ujar darda dengan senyuman kecil dan raut wajah yang tidak selaras dengan hati nya,
dialah seorang anak yang rapih dan teratur selayaknya deretan nada yang tersusun indah tetapi tak satupun suara yang keluar dari nada itu karena darda lebih suka melihat ketimbang mendengarkan, entah apa yang ada di fikiran dia seperti sesuatu terjadi di otaknya hingga darda tak sanggup menampung banyak hal untuk didengarkan.

            “Clek clek” suara pintu yang dia kunci dua kali, sebab nenek selalu mengingatkannya akan hal-hal yang terjadi di daerah ini di setiap malam, juga membuatnya ragu untuk sekedar mencari suasana di malam hari.
Seperti biasanya darda menggeser sofa kecil di depan televisi, sebuah alat yang mampu menghibur kesepiannya di tiap malam yang ia habiskan.
“kzkzkz” suara tv tua yang mulai kehabisan tenaga mulai menampilkan kebolehannya, sambil mengangkat satu kakinya ke atas lemari televisi darda pun bersandar dan duduk santai menunggu tayangan favoritnya tiba.
            Iklan demi iklan ia tunggu, tepat pukul 10 malam tayangan favorit yang ia tunggu pun mulai di putar, sebuah acara yang menampilkan banyak film di seluruh dunia yang bisa di tonton secara gratis setiap hari tanpa harus mengantri dan membayar ke bioskop.
Psycho judul film yang ia tonton malam hari ini adalah sebuah tayangan film bergenre slash dan horror, genre film yang ia sukai selama menoton acara ini.
                                                                                                       halaman 5           
           



novel energi psikis bab1 - ritual




Halaman 3


Sebelum pergi mengisi perutnya, seperti biasa darda pun melangkah terlebih dahulu kekamar adik tercinta yasinta, darda pun mengetuk pintu dua kali secara perlahan sebab darda tak ingin mengganggu tidur nyenyak sang adik.
Darda  membuka pintu kamar adiknya berjalan perlahan dan duduk persis di samping yasinta, dengan senyuman lemah dan tatapan lesunya darda pun meraih tangan sang adik, dia menutup matanya seolah khusyuk mendoakan kesehatan sang adik, alunan doa yang tak terdengar karena angin lebih sibuk bergumam.
“amin” timbal yasinta mendengar kakaknya memanjatkan doa, tetapi darda tak pernah mendengar jawaban sang adik karena dia lebih dulu melangkah keluar. Dengan senyuman lebar yasinta pun menarik selimutnya kembali, seolah dia sudah tahhu bahwa dua ketukan pelan di pintunya itu adalah sang kakak yang baru pulang bekerja.
           
Tak banyak waktu yang bisa dia ceritakan kepada sang kakak, tak sedikit pun keluh dan kesal dia luapkan, sebab yasinta sama sekali tak mau menggangu istirahat darda, karena baginya darda adalah sosok kakak yang penuh tanggung jawab, kebisuan ini membuat banyak pertanyaan, dan kehampaan adalah semua jawaban.
Hanya hari minggu yang selalu yasinta tunggu karena di hari itu sang kakak bisa sepenuhnya ia miliki, tetapi tak juga banyak opsi untuk sekedar memilah kegembiraan dan kesedihan.
“hanya satu pintaku tuhan, jauhkan kakak dari segala keburukan dan keraguan”
Kutipan yang selalu yasinta katakan di setiap doa-doa nya.
           
Dahinya mulai  mengkerut, matanya tertutup pula bibirnya yang bergetar sebab yasinta tak sanggup menahan air matanya yang berlinang membasahi se isi kamar, entah apa yang ada di fikirannya yasinta begitu kencang memeluk guling yang ia pegang, Di atas kamar tidur yang penuh harapan ini yasinta memanjat doa.

            “darda ayo isi dulu perutmu yang kosong itu” sahut sang nenek, iya nek timpal darda menjawabnya, darda pu lekas pergi ke ruang makan, darda pun duduk rapih dan tertib selayaknya pelanggan setia di sebuah restoran.
Sang nenek mengambil semangkuk nasi dan satu buah sendok plastic berwarna putih, lalu di guyurkan sup bayam serta sepasang tahu dan tempe di atas nya, indah tersusun rapih bak sajian istimewa ala chef di acara televisi.
“maaf ya, nenek Cuma bisa menghidangkan ala kadarnya” sembari memberikan makan malam kepada cucu tersayangnya.
            Tidak nek, darda yang minta maaf darda tidak bisa memberikan nenek uang lebih untuk berbelanja, itu semua bukan keslahan nenek, itu tanggung jawab darda , nenek pun tersenyum lepas.

Sang nenek terus menatapi wajah cucu kesayangannya, darda yang tertunduk lahap dengan khusyuk menyantap hidangan yang di buat oleh sang nenek.
                                                                                                           halaman 4

novel energi psikis bab1 - ritual





Halaman 2


Terima kasih nek sahut darda, nenek pun memberikan jaket tebal peninggalan sang suami yang telah meninggalkannya 15 tahun yang lalu, jaket yang sudah using dan belel sebab sudah lama benda itu tersimpan di dalam lemarinya.
“ayo cepat lari sana ke kamar mandi dang anti bajumu”, dengan jaket dan handuk ditangan, darda pun bergegas ke kamar dan melepas pakaian serta menjemur pakaian kerjanya tepat di pinggir lemari belajar, di samping kipas angin, karena esok hari dan hari hari selanjutnya dia harus memakainya kembali tanpa harus mencuci pakaian itu setiap hari.
Tak ada yang istimewa di istana kecil nan sederhana ini, hanya ada dua ruang tidur, satu kamar mandi dan dapur juga satu ruang makan yang sempit.
Tak ada barang-barang istimewa yang bisa menemani atau sekedar di gunakan untuk hal-hal  yang penting disana, hanya ada televisi dan rak yang penuh dengan buku peninggalan sang kakek dan tak pernah bisa lagi dia ingat.
Rumah yang belum pernah darda pertanyakan kepada sang nenek, mungkin karena ia lelah bekerja atau itu sama sekali tak penting baginya.
            Selesai mengikat handuk di pinggangnya darda pun lekas pergi ke kamar mandi persis di sebelah dapur, nenek pun tersenyum sembari mengaduk masakan untuk di hidangkan di meja makan, darda pun mulai meraih pegangan pintu yang sudah rusak dan berkarat sebab puluhan tahun sudah, usia merayapi bangunan tua ini bahkan untuk sekedar memperbaikinya pun tak ada alat ataupun suku cadang yang bisa darda gunakan, mungkin rumah ini sudah lelah enunggu kapan perbaikan akan di mulai.
            “darda awas di intip superman” canda sang nenek,
Tetapi tak ada balas gurauan dari sang cucu, darda hanya tersenyum kecil sambil menatap ke atas atap yang bolong menganga.

Dibalik rangkaian bintang,
Dibawah langit malam,
Dia membasuhi seluruh tubuhnya
Menghempas debu jalanan yang melekat disekujur badannya, dinginnya air beradu dengan bekunya suasana malam.
            Selesai membersihkan diri, darda bergegas ke kamar tidur dan mulai menggunakan pakaian tidurnya, tak ada banyak pilihan yang bisa di pakai di hari-harinya mengistirahatkan tubuh, sebab ia lebih mementingkan kebutuhan sang nenek dan sang adik.
Cermin yang begitu besar berdiri dihadapan darda seolah menunggu dan merayu, tetapi tak sedetik pun ia pernah menggunakan benda itu.

Sesekali ia hanya bergumam dan tertunduk di hadapan cermin yang berada di depannya.
                                                                                                                   halaman 3

energi psikis bab1- ritual



                                                          Halaman 1
Bab 1 : ritual
Tetesan air jatuh perlahan dari atas genting ,sisa hujan deras tadi sore ,
Sepekan lebih bandung telah di guyur  hujan deras ,bercampur dengan gelegar petir yang menghentak disetiap detak jantung ini.
            Satu burung walet melayang tinggi di atas pelataran langit malam hari ini ,ditinggalkan kawanan sebab ia tersesat untuk kembali pulang , tetapi ia tanpa ragu mengepakan sayapnya , seolah olah ada keyakinan tinggi yang begitu kuat, menemani perjalanannya.
Dan kunang-kunang belum Nampak karena dinginnya hawa malam yang menyelimuti, membuat mereka enggan untuk sekedar menerangi perjalanan pulangku.


            Darda pun mengijakan akhir langkah kakinya persis di depan halaman rumah tercinta, pria ber-umur 24 tahun yang sangat jarang sekali tersenyum begitupun untuk tertawa, seolah olah bibirnya yang tipis tertutup oleh wataknya yang beku.
Kepala yang tertunduk lesu sedari pulang dari pekerjaannya, mulai mengangkat tegak lurus ke arah depan, kedua matanya berbinar, garis dibibirnya melebar, kerut dan otot didahinya pun menghilang seperti sengaja bersembunyi.
            Tepat di hadapannya seorang nenek berumur 61 duduk dengan gelisah menunggu sang cucu pulang, rambutnya yang pendek berwarna hitam ter-urai halus, seakan tak Nampak tua di usia lanjutnya, dialah nenek bernama rosa.
            Dengan jaket tebal dan handuk ditangannya ,sang nenek pun mulai berdiri menyambut kepulangan darda sang cucu yang telah ia rawat hampir dua minggu yang lalu, dia rela meluangkan sisa hidupnya demi untuk mengurus kedua cucu dari anaknya yang bernama adila,
            Aku pulang seru darda kepada nenek, tanpa ragu nenek pun tersenyum lebar dan mengiyakannya, di usapkan handuk ke wajah dan rambut darda yang basah karena kehujanan, sadar karena darda tak pernah membawa payung untuk melindungi badannya.
Aku senang saat hujan membasahi badanku, sebab aku ingin semua keraguan dan gelisahku ikut turun sesaat hujan menyentuh tubuhku, petikan darda kepada sang nenek tepat saat hujan pertama turun dari atas langit.
                                                                                               halaman 2

Kamis, 01 September 2016

baca novel energi psikis chapter 1 (senandung)

 Energy psikis adalah novel ber-genre thriller dan misteri,
Sebelum anda membaca secara keseluruhan novel ini , saya ucapkan terima kasih terlebih dahulu ter-khusus untuk anda yang meng-apresiasi karya saya , jika ada kritik maupun saran mohon berkomentar di kolom comment di bawah,

Dan mohon perhatiannya sekali dilarang keras meng-copy ataupun menjiplak hasil karya saya maupun orang lain , karena sangat begitu merugikan untuk para pembuat blog seperti saya mungkin juga anda ,report ataupun ancaman masih berlaku J , akhir kata saya ucapkan terima kasih.
                                                                            klik selanjutnya

Minggu, 28 Agustus 2016

prolog novel energi psikis chapter 1 (senandung)



prolog
Awan mendung menghiasi hariku ,derai hujan menghentikan langkahku
                   Ditengah kota  sunyi , aku berdiri
                   Di batas waktu, ku mencari arti
Derasnya hujan di langit bandung tak membuat kulit dan tulangku kedinginan, detik demi detik rentetan air hujan menghujam seluruh tubuh ini , seperti senapan serbu yang mencoba menembus lemahnya ragaku , menggeliat dan melubangi pori-pori kulitku , air hujan yang mencoba membangunkan jiwa yang rapuh ini.
            Di sepanjang jalan padjajaran angin dan hujan bercampur ber-adu kiat meghantam kasarnya jalanan aspal , seperti suara distorsi yang menghancurkan indahnya alunan melodi , pohon-pohon ber-ayun tak ter-arah ter-ombang ambing selayaknya hujan dan angin menjambak memukul untuk mencoba mencabut akar yang telah ter-tanam kokoh di basahnya tanah yang terhujani.
            Lantas aku pijakan saja kaki ini , seperti hari-hari biasa langkah demi langkah mendarat pelan di permukaan jalan yang tergenang air hujan, licin karena lumut yang tak ter-urus kotor karena gundukan debu yang kian menggunung.

Hampir setengah jam aku berjalan , kakiku berkerut menggigil kedinginan begitu terasa karena tipisnya kulit sepatu yang bergesek meninggalkan banyak lecet di sebagian kulit ibu jariku.
            Hampir setengah perjalanan menuju pulang, tapi entah apa yang ada dibenakku rasanya igin ku ulangi saja perjalanan ini di awalku melangkah pulang
Deru hujan kian menghilang, menjauhi mendungnya awan di pelataran langit yang begitu luas.
            Untuk apa aku berada disini?
            Dengan siapa aku harus pergi?
            Sampai dimana aku berlari?
            Sejauh mana aku meyakini?
Oh TUHAN untuk sekedar mengangkat kedua tangan ini pun terasa berat rasanya ,dan bertanya pun aku tak pernah sanggup maka sambutlah jiwa ini TUHAN bebaskan jiwa yang lemah dan berkarat ini dari dalam ragaku.
senja berganti gelap di iringi sahutan adzan maghrib yang begitu keras mengalun kencang di relung hati ini ,berdansa mengelilingi batas memoriku seolah sengaja merasuki batin yang sedang bergemuruh pedih, yang kian mencoba merubah segenap lirih,

alunan adzan yang bersenandung di segenap keraguan jiwaku.
                                                                                              klik halaman 1